ilustrasi narkoba.

Persoalan Narkoba di Kalbar Menyita Perhatian Komisi III

Radarnasional.com, Jakarta – Anggota Tim Kunjungan Kerja Komisi III DPR RI ke Provinsi Kalimantan Barat Ali Umri menekankan BNNP Kalbar agar mencari penyebab peredaran narkoba di Kalbar yang tidak pernah berhenti, mengingat peredaran narkoba sampai tahun 2017 sudah mencapai 74 Kg.

Hal itu mengemuka saat rapat dengar pendapat Komisi III DPR RI dengan Kapolda Provinsi Kalimantan Barat Erwin Triwanto beserta jajaran penegakan hukum di Provinsi Kalbar di Aula Khatulistiwa Mapolda Kalbar, Selasa (31/10/2017).

“Jadi hal ini tentunya jadi pertanyaan bagi kita, apakah hal ini ada yang melindungi sehingga peredaran narkoba ini tidak berhenti di Kalbar ini. Apakah memang deket dengan perbatasan sehingga sangat memudahkan sekali masuk dari negara lain ke Indonesia ini, nah ini jadi pertanyaan kita ini,” ungkap politisi Dapil Sumut III.

Ali Umri menginginkan, kepolisian maupun BNN benar-benar jujur untuk mengatakan apa yang terjadi, agar seluruh aparat penegakan hukum bersama elemen masyarakat dapat bersama-sama memberantas masalah narkoba di Kalbar, Sehingga tidak membahayakan masyarakat Kalimantan Barat.

“Seperti yang pak presiden bilang ini darurat narkoba di seluruh Indonesia, dan ini bisa segera diatasi. Jadi kalau tidak ada kejujuran, tidak ada kebersamaan untuk memberantas ini, tentunya narkoba ini masih marak,” kata Ali Umri.

Sementara anggota Komisi III DPR RI Akbar Faisal (F-Nasdem) menyoroti kasus narkoba yang sempat menggegerkan dunia, yaitu Kasus Fidelis yang menanam ganja untuk pengobatan istrinya, namun malah ditangkap dan ditahan. Akbar mempertanyakan dimana wilayah intelektualitas, hukum, dan kemanusiaan di BNNP Kalbar ini.

“Karena beberapa anggota tadi mengatakan bahwa kok tampaknya BNN-K SAMBAS dalam hal ini BNNP Kalbar itu tidak mempertimbangkan itu hanya demi mengejar target ada kasus yang ditangani,” tutup Politisi Nasdem tersebut.

Menanggapi kekecewaan dari Komisi III DPR RI, Kepala BNNP Kalimantan Barat Nasrullah menyatakan tidak masalah baginya jika menyangkut pekerjaan harus dikritik maupun diberikan masukan. Semuanya hanya perbedaan cara pandang, menurutnya.

“Kekurangan-kekurangan yang cukup banyak dari segala hal jadi wajar kalau kita masih tertatih-tatih. Kalau masuknya narkoba memang dari sana (Serawak) sudah diarahkan ke sini (Kalbar) kita selalu memantau. Kalau kita lihat tangkapan jika dibandingin yang lain cukup besar untuk wilayah Kalbar ini. Memang baru 20% yang ditangkapnya dan yang lainnya banyak yang lolos karena keterbatasan di lapangan, peralatan utamanya juga masih kurang,” papar Nasrullah.

Selain itu, menurutnya, semua instansi kurang termasuk bea cukai juga tidak punya alat. “Kalau mobil lewat dia bisa mendetect, kalau manual itu susah dia panjang akhirnya banyak dilepas, baru ditangkapnya diluar atau di dalam wilayah kita,” papar Nasrullah. (nwi)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *