Mengamati Cuaca di Olimpiade Sains Nasional Bidang Lomba Kebumian.

Mengamati Cuaca di Olimpiade Sains Nasional Bidang Lomba Kebumian

Radarnasional.com, Jakarta – Bidang Lomba Kebumian di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017 menjadi salah satu bidang lomba yang menarik. Bidang lomba ini menguji peserta untuk lima jenis bidang ilmu yaitu geologi, geofisika, meteorologi, astronomi, dan oseanografi. Pada sesi ujian meteorologi, peserta diminta mengamati cuaca dengan mata telanjang untuk mengukur kecepatan angin dan menemukan jenis-jenis awan di sebuah lapangan terbuka.

Zadrach Dupe, Juri OSN 2017 untuk Bidang Lomba Kebumian mengatakan, pada sesi ujian meteorologi peserta diberikan sebuah alat bantu yang tidak secara spesifik dapat digunakan untuk mengukur cuaca. Alat bantu tersebut merupakan alat umum yang biasa dipakai oleh masyarakat yang menyenangi meteorologi.

“Kita sediakan roda awan atau cloud wheel. Sebenarnya di roda awan itu sudah ada fotonya (awan), jadi peserta tinggal mengamati, cari fotonya di roda awan, dan disitu akan ada keterangan, nama awannya apa, ketinggiannya berapa. Kalau Anda sudah mengenal, akan mudah sekali. Sebenarnya yang dilatih itu keterampilan,” ujarnya di lapangan SMAN 8 Pekanbaru, Riau, Selasa (4/7/2017). SMAN 8 Pekanbaru menjadi lokasi lomba bidang kebumian di OSN 2017.

Ujian lain di sesi meteorologi bidang lomba kebumian adalah mengukur kecepatan angin. Peserta berada di lapangan untuk merasakan kekuatan angin dan mengukur kecepatan angin dengan mengamati tanaman yang bergerak atau merasakan terpaan angin. “Peserta dikasih tabel untuk mengenali alam.

Jadi misalnya kalau kita begini (merasakan terpaan angin), berarti anginnya sepoi-sepoi, berarti kecepatannya sekian. Sementara saya nanti dengan asisten akan mengukur kecepatan angin dengan alat, lalu melihat tafsiran mereka, apakah sesuai atau tidak. Makin mendekati tafsiran, maka nilai yang diberikan makin tinggi,” jelas Zadrach yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sesi ketiga di bidang lomba kebumian adalah ujian astronomi. Di sesi ini peserta akan diuji untuk memperkirakan waktu atau jam dari bayangan matahari. Peserta harus bisa menggunakan jam matahari. Mereka dilarang menggunakan jam tangan atau membawa ponsel pintar (smartphone) saat ujian.

Zadrach menjelaskan, panitia menyediakan alat untuk membantu peserta menentukan bayangan, lalu memperkirakan waktu atau jam. Ia mengatakan, beberapa hal yang menentukan antara lain panjang bayangan dan letak atau lokasi bayangan, misalnya pada lintang berapa.

“Nanti bisa dihitung, pada tanggal sekian bayangannya kira-kira di mana. Di petanya sudah ada garis-garis untuk panjang bayangan. Jadi kita tinggal lihat panjang bayangannya sesuai atau tidak, lalu jamnya berarti jam sekian,” tutur Zadrach.

Selain itu, di hari pertama bidang lomba kebumian, peserta juga menjalani ujian teori secara tertulis selama dua jam, dan ujian sesi geologi berupa mengamati mineral. Zadrach mengatakan, tes geologi itu disebut tes peraga, yang dilakukan di dalam ruangan.

“Jadi di atas meja ada macam-macam mineral, dan peserta harus mengenali itu mineral apa saja. Ada 15 mineral yang harus dikenali. Mineral-mineral itu disusun di atas meja, lalu mereka mengamati dan mengenali suatu mineral selama beberapa menit, lalu berpindah ke mineral lain,” katanya.

Peserta akan menjalani tes geofisika dan oseanografi. Untuk geofisika, peserta akan menjalani pengenalan lapangan dengan mengamati singkapan, yaitu tanah yang terbuka. Peserta akan mengenali mineral apa saja yang terdapat pada singkapan itu. “Untuk sesi oseanografi, biasanya ke laut untuk mengukur gelombang dan arus. Kali ini ini kita ke danau untuk mengukur tingkat kekeruhan air danau, yaitu di Danau Kayangan,” ujar Zadrach.

Feonie Audina Haryantho adalah salah satu peserta OSN 2017 untuk bidang lomba kebumian yang berasal dari Bali. Menurut siswi SMAN 2 Amlapura itu, kesulitan yang dihadapi adalah saat menjalani ujian meteorologi. “Kesulitannya sih karena penafsiran orang kan beda-beda. Apalagi untuk mengukur angin. Kan kita dikasih tabel dan skalanya, lalu ciri-cirinya bagaimana, jadi bisa saja setiap orang itu penafsirannya beda-beda. Ada yang berpikir ini daunnya bergerak kencang, ada yang berpikir biasa saja,” tuturnya.

Feonie pun mengaku sudah melakukan persiapan sebelum berkompetisi dalam OSN 2017 di Pekanbaru, Riau. Beberapa persiapan yang dilakukannya antara lain membaca materi-materi yang ada di buku atau internet, dan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan di daerahnya. (nwi).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *