Miliarder Muda Yang Tak Lulus SMA Wujudkan Mimpinya Dengan Kerja Keras

Radarnasional.com, Jakarta – Ada ungkapan Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudia, ungkapan ini agaknya pas disandang oleh Septian Suryawirawan. Meski dirinya tak lulus SMA, namun dengan semangat juang yang tinggi diusia yang terbilang masih muda 27 tahun, ia sudah berhasi menjadi Miliyarder muda.

Semua berawal dari tahun 2003, sang nenek yang membiayai hidupnya sejak masih bayi hingga besar semakin renta dan tak mampu berkerja lagi. Ia pun di sodorkan dua pilihan oleh neneknya, putus sekolah dan memilih cari uang atau kembali ke rumah orang tuanya.

Dirinya sempat mendatangi kediaman orang tuanya untuk meminta bantuan biaya agar tetap bisa melanjutkan pendidikannya hingga lulus SMA. Namun, Tian sepertinya harus menelan pil pahit lataran dirinya ditolak dan diusir. Ia pun kemudian menangis dipangkuan nenek meratapi nasibnya yang kelam.

“Kami pun berdoa. Tiba-tiba telepon berdering, ada orang yang menawarkan profesi sebagai badut. Di sini cikal bakal fase hidup saya yang baru,” tutur Tian saat dijumpai dibilangan Sudirman, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Hingga akhirnya pada tahun 2003, ia akhirnya putus sekolah dan memilih untuk berkerja sebagai badut di sebuah took mainan di Surabaya. Saat itu, ia mendapat upah sebesar Rp 20-35 ribu per 6 jam kerja. Tak sedikit hinaan serta cemoohan dari teman-temannya yang ia terima. Namun, demi kelangsungan hidup dirinya serta sang nenek, Tian pun tak menghiraukannya.

 “Pernah juga beberapa kali saya pingsan karena dehidrasi dan kelelahan. Saya pingsan di toilet lalu dibangunkan oleh penjaga toilet. Ketemu teman dicemooh, dikatain badut, orang bodoh, nggak sekolah. Saya tetap menjalani profesi itu, karena kalau tidak dijalani, mau makan apa kita,” kenang Tian.

Kurang lebih enam bulan dirinya menjalani profesi sebagai badut penghibur. Kemudian ia banting stir menjadi pesulap. Kebetulan toko tempat ia bekerja menjual peralatan sulap. Dari sanalah ia belajar teknik dasar bermain sulap.

Saat menjadi pesulap, upahnya saat itu masih Rp 35 ribu. Namun, lambat laun Tian mulai disukai masyarakat. Dirinya kemudian berkeliling dari pentas seni ke pentas seni dan dari event ke event. Dan ia pun saat itu sangat berambisi untuk menyerupai idolanya, Deddy Corbuzier.

“Waktu itu saya berkeyakinan bahwa dunia sulap adalah masa depan saya. saya mulai perform dimana-mana seperti acara ulang tahun, bayarannya sudah jutaan. Lumayan ada peningkatan dari honor. 5 menit dibayar Rp 5 juta. Acara launching sebuah perusahaan main 15 menit dibayar Rp 17 juta. Promosinya hanya dari mulut ke mulut dan kualitas yang saya punya,” jelas Tian.

Kurang lebih satu tahun berkarir sebagai pesulap, mimpinya bertemu dengan sang idola akhirnya terwujud. Sebuah ajang pencarian bakat sulap yang diselenggarakan oleh salah satu TV swasta pun diikutinya. Deddy Corbuzierlah salah satu jurinya.

“Setelah jadi pesulap lokal di Surabaya, saya ikut ajang pencarian bakat The Master. Kabar buruknya saya tidak lolos audisi,” tukas Tian.

Meski demikian, semangatnya untuk menjadi pesulap tak lantas pudar. Ia pun berangkat ke Jakarta untuk menyaksikan ajang tersebut. Hingga akhirnya dirinya dipercaya oleh Pesulap Romy Rafael sebagai Marketing promosinya. “Waktu acara The Master saya duduk dibangku penonton. tiba-tiba Romy Rafael nyentil saya pakai kelereng. Ternyata dia manggil saya. dia bilang ‘bisa nggak kamu jual saya di Surabaya?’. Saya langsung menyanggupi. Saya kemudian sukses dan Master Romy mempercayakan saya sebagai marketingnya,” ungkapnya.

Bergelut di dunia entertainment menjadi pelajaran berharga bagi Tian. Selain honornya yang ‘wah’ relasinya pun bertambah banyak. Tapi profesi itu tidak lama digelutinya seiring dengan meredupnya industry sulap di dunia hiburan tanah air. 6 bulan ia tidak mendapat penghasilan karena sepi job.

Namun, didalam kamus hidupnya, ia tak mengenal kata menyerah. Tian sangat pintar melihat peluang yang ada. Akhirnya ia kembali ke Surabaya untuk merancang projek baru yaitu menjadi promoter Boy Band dan Girl Band yang kala itu tengah digandrungi public. Peluang ini sangat dimanfaatkan Tian untuk meraup rupiah.

“Akhirnya saya mengundurkan diri dari timnya Romy Rafael. Saya kembali ke Surabaya. Saya melihat peluang dari boomingnya boy band dan girl band. Sempat dicemooh mana mungkin laku, siapa yang mau nonton. Tapi saya yakin sukses. Saya bikin konser cherrybelle di Surabaya hanya bermodalkan mulut. Saya jual mulut ke beberapa orang kaya. Saya berprinsip Temukan dimana masa mengarah dan berangkatlah terlebih dahulu. Artinya sebelum orang melihat, saya sudah lihat duluan. Akhirnya meledak. Saya bikin event-event lain dan untung besar. Saya dapat duit dari penjualan tiket, sponsor dan artisnya. Saya bikin event per 6 bulan sekali. Pendapatannya ratusan juta,” papar Tian tersenyum.

Meski pundi-pundi rupiah yang dihasilkan olehnya dengan menjadi promoter music sangat deras mengalir. Namun, dirinya merasa jenuh dengan rutinitasnya itu. Dirinya merasa pola hidupnya mulai tidak normal, siang jadi malam dan malam jadi siang.

Ia pun berangan-angan untuk berprofesi dengan jadwal kerja yang sehat namun meraup keuntungan yang berlimpah. “Kalau saya jadi promoter nggak bisa pensiun. Karena kalau saya pensiun, saya nggak dapat profit. Artinya untuk jangka panjang ini tidak nyaman,” aku Tian.

Hingga akhirnya, Tian bertemu dengan kawan lamanya, seorang penulis buku best seller di Nasi Cumi Pasar Atung Surabaya bernama Marcell Halim. “Dia bilang, ‘Kamu kan kerja marketing bersama artis, bisa gak kamu promosikan saya?’ Kebetulan dia penulis best seller. Dari situ dia bilang, ‘Tian aku lihat kamu pekerja keras, tapi sayang kamu gak kaya-kaya. Punya uang cuma buat perut’. Saya mikir, iya juga ya,” terangnya.

“Dia bilang ada bisnis yang bisa mewujudkan impian saya. Marcel pun menjelaskan bisnis Talk Fusion. Saya melihat siapa yang mengundang saya. Kedua ini peluang teknologi, ketika berbicara teknologi kita berbicara masa depan. Ketiga dapat komisi. Komisinya dollar dan tinggal di Indonesia. Di sini daya tariknya luar biasa sekali. Dari situ saya berpikir menarik sekali. Dengan modal kecil tapi bersistem. Pembayaran hanya 3 menit dan langsung dibayar. tanpa berpikir panjang saya bergabung tahun 2012,” sambung Tian.

Singkat cerita, setelah bergabung di bisnis MLM berbasis teknologi komunikasi ini, Tian bekerja sangat keras. Tak kurang penolakan dan hinaan yang dialaminya. Namun, dirinya mempunyai prinsip Abang Tukang Bakso dipegangnya erat-erat. Mengitari 100 ‘rumah’ demi menjual 100 mangkuk bakso tanpa henti pasti menghasilkan dan mencapai target.

“Pada saat saya menjadi manager artis, saya mendapat profit setelah satu tahun sebab tahun pertama saya masih belajar mengembangkan diri. Nah, di Talk Fusion ini yang sangat aneh, saat saya mengembangkan diri,  duitnya malah mengalir masuk,” jelas Tian mengenai bisnis yang dijalaninya.

Tak mudah mencapai kesuksean, butuh kesabaran dan semangat yang teguh untuk mencapainya. Hal itu yang dilakukan oleh Tian untuk mencapai semuanya. Sehingga sekarang ia telah siap menuai hasilnya.

Kini, Septian hidup bergelimang barang-barang mewah. Di Talk Fusion, Jutaan dollar berhasil ia raup setiap bulannya. Tujuh unit apartemen yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, rumah mewah berdiri megah di sebuah perumahan elit di Surabaya ada pada genggamannya. Mobil Marcedes-Benz E-Class Carbiolet menjadi tunggangannya sehari-hari. Dan beberapa mobil sport lainnya hingga jam Rolex pun ia koleksi.

“Saya sudah kenyang hidup miskin, sekarang boleh dong saya memilih sebaliknya. Kalau bisa kaya, ngapain pilih miskin. Hidup ini Cuma sekali apa salahnya saya maksimalkan. Dengan semua ini, saya mau buktikan, setidaknya kepada keluarga saya sendiri, bahwa nenek yang telah membesarkan saya tidak boleh dihina-hina. Saya ingin jadi cucu paling kaya yang pernah dimiliki oleh tujuh turunan keluarga nenek saya,” tegasnya. (cze/hlb)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *