Mukidi Si Calon Pupati, Awalnya Dibully Akhirnya Dihormati.

Mukidi Si Calon Bupati, Awalnya Dibully Akhirnya Dihormati

Oleh : Ardiansyah Fadli

SIAPA yang tak pernah mendengar nama Mukidi akhir-akhir ini? Mukidi adalah sosok fiktif dalam sebuah cerita yang dipopulerkan oleh seorang keturunan Jawa bernama Soetantyo Moechlas, warga Banyumas, Jawa Tengah.

Ia sengaja menamai tokoh ceritanya dengan Mukidi selain karena alasan dirinya adalah orang Jawa, juga karena menurutnya Mukidi adalah nama yang mudah untuk diingat banyak orang.

Dugaan si penulis tak salah ternyata, nama Mukidi pun yang sempat booming di tahun 2012 kemudian booming kembali atau saya menyebutnya mengalami ‘Mati suri’. Di akhir Bulan Agustus 2016 nama Mukidi pun terdengar kembali dengan beredar cerita-cerita tentang Mukidi yang tersebar di seluruh media sosial.

Tahun 2016 adalah era Public Sphere (Ruang Publik Baru) dimana orang banyak memainkan peranannya di media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, BBM, WhatsApp dan yang lainnya. Dan mereka saling memberikan opini.

Teori public Sphere yang diperkenalkan oleh seseorang filsuf Jerman Hebermas dengan asumsi bahwa individu datang bersama-sama ke lokasi yang sama dan terjadinya dialog satu sama lain, sebagai peserta yang sama dalam percakapan face-to-face (Oliver Boyd-Barret, 1995: 257).

Pada pertemuan Mark Zuckerberg (Pendiri Facebook) dengan Presiden Jokowi di Jakarta, Mark sempat mengatakan bahwa Indonesia adalah pengguna Facebook ke-3 di Dunia setelah Amerika dan India.

Hal demikian yang juga di rasakan oleh sosok tokoh yang ingin maju sebagai bakal Calon Bupati dan saya sengaja menyebutnya dengan julukan Mukidi.

Tidak bermaksud untuk mengaburkan cerita-cerita Mukidi yang sudah Populer, namun saya berasumsi bahwa Calon Bupati memiliki kesamaan dengan sosok Fiktif Mukidi.

Nama Mukidi yang sempat ‘mati suri’ berkat adanya peran media sosial juga dirasakan Mukidi Si Calon Bupati, beberapa bulan lalu ia maju sebagai Bakal Calon Bupati dengan jalur Independen namun mengundang banyak Bullying dari para Haters.

Sebab menurut mereka, sangat tidak mungkin jika ada calon yang maju melalu jalur Independen sementara partai politik adalah pintu gerbang atau juga bagian terpenting dalam demokrasi.

Ketegaran Mukidi si Calon Bupati membulatkan tekadnya untuk berjuang dan menempuh jalur partai politik.

Tak beberapa lama setelah maraknya bullying tentang Mukidi si Calon Bupati tersebut justru malah redup dan berubah menjadi sosok yang di Idamkan banyak masyarakatnya.

Berita-berita yang dibagikan banyak orang di media sosial semakin mempopulerkan Nama nya sampai di kenal ke Setiap lapisan masyarakat daerah pencalonannya. Bahkan sistem Polling kepercayaan publik mengantarkannya sampai pada posisi teratas dibanding lawan politiknya.

Ardiansyah Fadli, Adalah Jurnalis Hallo Media Network (HMN).




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *