Alasan Birokrasi Mukidi Terancam Tidak Dapat Surat Sakti di ‘Negeri Amplop’

Oleh : Ardiansyah Fadli

BEBERAPA hari yang lalu masyarakat dihebohkan dengan adanya broadcast cerita sosok tokoh Mukidi di berbagai akun Media sosial. Hal ini kemudian memenuhi pemberitaan di media cetak dan di layar televisi.

Cerita yang Jenaka, sosok tokoh yang humoris namun juga memiliki ketajaman kritik terhadap kondisi sosial, pemerintahan menjadi daya tarik banyak orang untuk membacanya.

Dikisahkan saat Mukidi ingin mencalonkan menjadi pemimpin di negeri ‘amplop’ dirinya merasa kesulitan karena harus banyak mengamplopi kantong-kantong birokrasi sebagai syarat mendapatkan surat sakti.

Tidak sampai disitu, ribuan relawan Mukidi pun tidak kalah bingung dengan nasib Mukidi, pasalnya mereka yang sudah mempercayai Mukidi sebagai sosok yang dapat membawa pada perubahan dan kesejahteraan kerap kali diperas dan palaki oleh Oknum Birokrasi dan hanya diimingi-imingi sesuatu yang tak pasti.

Akhirnya Mukidi pun speechless (tidak bisa berkata-kata), banyak loyalis dari para pendukung Mukidi justru malah kewalahan dan sakit hati karena Mukidi tidak mampu mendapatkan surat sakti tersebut.

Mukidi kelelahan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk meyakinkan kembali pada loyalisnya. Padahal ia telah menawarkan jabatan apapun kepada loyalisnya tapi hanya sedikit saja yang masih bertahan.

Mukidi tidak maruk kursi, baginya kursi dan jabatan akan ia berikan kepada siapapun. Asalkan para loyalisnya mau membantu dirinya disaat terhimpit seperti ini dan berharap kepada para loyalisnya untuk saling bahu-membahu dan mengubah pesimisme menjadi sebuah harapan yang bisa menggapai impiannya.

Disetiap harinya Mukidi ditodong oleh banyak gerbong, visi dan misi Mukidi tak pernah menjadi pertimbangan besar di ‘negeri amplop’.

Mukidi pantang menyerah, baginya Tuhan selalu menjadi alasan untuk tetap tegar dan kuat, petuah-petuah suci dari sabda Tuhannya ‘ada kemudahan setelah kesulitan’ terus ia pegang teguh dalam dirinya.

Baru kali ini melihat kondisi Mukidi yang sebegitu serius dan pusingnya, tak seperti biasanya Mukidi yang selalu Humoris dengan canda dan tawa yang mampu memberikan kesegaran dan hiburan kepada banyak orang.

Nampaknya Mukidi saat ini ingin meminta utang budi berupa ‘Canda dan Tawa’ yang ia inginkan dari banyak orang yang sebelumnya mereka telah banyak mengkonsumsi canda dan tawa yang ia buat dahulu.

Tertanda : Mukidi

Begitulah cerita haru dan duka yang sedang dihadapi Mukidi saat ini. Lantas, akankah Mukidi masih tetap bisa menjaga khazanah canda dan tawanya untuk mahkluk dunia? Kita sendiri yang akan menjawabnya, sudah besar konstribusi Mukidi. Sebab setiap tawa dari banyak pembacanya adalah amal untuknya.

Mungkin Mukidi juga ingin kita beramal untuknya dan bagi para penggemar Mukidi, selamatkan Mukidi, bantu Mukidi keluar dari tipu muslihat oknum-okmum birokrasi di ‘Negeri Amplop’. #SaveMukidi #BantuMukidiDiNegeriAmplop


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *