OPAK, Penanaman Nilai dan Peran Politik Kampus untuk Mahasiswa Baru

Oleh : Ari Aprian Harahap

ORIENTASI Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) merupakan salah satu acara yang dilaksanakan setiap tahunnya oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara ini adalah momentum yang diadakan guna memperkenalkan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus, kegiatan-kegiatan kampus seperti memperkenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Semi Otonom (LSO) tiap fakultas dan banyak kegiatan lainnya.

Beberapa hari yang lalu, Jumat (26/08/16), UIN Jakarta sukses melaksanakan berbagai rangkaian acara OPAK. Hal ini dibuktikan dengan berjalannya acara dengan sangat Khidmat dan penuh dengan kemeriahan.

Acara yang banyak melibatkan organisasi yang ada di kampus seperti Dema-U, Dema-F, HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) dsb, tentu menjadi apresiasi bagi banyak orang, khususnya para mahasiswa akan adanya kerjasama dan sinergisitas satu dengan yang lainnya.

Tetapi dibalik kemeriahan acara tersebut, nampaknya menjadi rasa duka dan haru saya juga teman-teman lainnya ketika melihat banyaknya ketidaketisan panitia seperti menampilkan fanatisme kelompok, saling membanggakan golongannya masing-masing sehingga hal tersebut banyak menimbulkan konflik kepentingan dengan yang lainnya.

Buat saya hal ini sangatlah memilukan dan patut kita kritisi bersama sehingga kesuksesan acara tidak hanya secara seremonial melainkan secara substansial pun bisa menjadi sebuah kesuksesan yang sangat berarti khususnya terhadap profesionalisme dan sportifitas organisasi kampus.

Politik kampus bukanlah sesuatu yang aneh bagi kebanyakan mahasiswa, walaupun banyak sebagian mahasiswa yang cenderung apolitis (tidak peduli dengan politik) sehingga banyak orang menyebutnya mahasiswa ‘abu-abu’ tapi setidaknya politik kampus cukup representatif untuk menjadi rule model/miniatur politik bangsa ini.

Mahasiswa baru di kampus secara perlahan akan diperkenalkan dengan peta politik kampusnya oleh rekan, senior dan lingkungannya, tak terkecuali dosennya pun bisa saja memperkenalkan hal demikian.

Hanya saja, untuk menciptakan suasana politik yang efektif dan juga baik tentu saja mereka dituntut untuk sportif dan profesional dalam melaksanakan kegiatan apapun. Tak terkecuali acara OPAK kali ini, sangat disayangkan jika masih saja ada dibenak dan pikiran segelintir mahasiswa yang masih mencampuradukan kepentingan kelompoknya dalam acara ini.

Kelompok yang memenangkan percaturan politik kampus tidaklah berlaku angkuh dan juga acuh terhadap kelompok yang lainnya, dan membuat kebijakan kebijakan yang hanya menguntungkan kelompoknya.

Kelompok yang kalah justru harus bisa menerima kekalahan sehingga lawan tidak selalu menjadi musuh, sehingga sinergisitas bisa dibangun dengan baik dan tidak dipenuhi dengan kecurigaan dan rasa gengsi yang berlebih dalam menjalankan kegiatan seperti OPAK dan uang lainnya.

Sejatinya OPAK tidak lagi sekedar menjadi ajang untuk perkenalan melainkan didalamnya juga harus dijadikan sebagai penanaman nilai kepada mahasiswa baru selaku Agen of Change bangsa ini akan pentingnya terlibat didalam sebuah organisasi.

Maka hanya dengan cara yang santun, etika yang baik, gerak langkah yang sportif memberikan kebebasan mahasiswa baru untuk memilih sehingga dapat membuat mahasiswa menyadari akan pentingnya politik dan juga organisasi secara objektif.

Sebab jika mereka menggunakan peran politik kampusnya dengan politik yang kotor, rayuan rayuan pragmatis, menjatuhkan lawan politiknya dengan cara tidak sehat, justru malah membuatnya pesimis dan berfikir bahwa organisasi tidak lain sebagai alat politik untuk merebut suatu kekuasaan.

Ini yang nampaknya harus disadari oleh seluruh elemen yang terlibat di dalam organisasi apapun di Kampus.

OPAK kali ini semoga menjadi Refleksi untuk kita bahwa cara yang baik akan menghasilkan nilai yang bermanfaat. Tetapi sebaliknya cara kotor, justru akan memperparah kondisi mahasiswa yang semakin apatis dan tidak peduli terhadap kondisi bangsa yang juga semakin jauh dari kata baik.

Ari Aprian Harahap, Adalah Mahasiswa UIN Jakarta.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *