Pilkada Brebes : Pendidikan Politik Dalam Menghilangkan Budaya Money Politik.

Pilkada Brebes : Pendidikan Politik Dalam Menghilangkan Budaya Money Politik

Oleh : Ardiansyah Fadli

MONEY politik adalah salah satu masalah yang telah mengakar hingga menjadi suatu kebudayaan atau kebiasaan dalam menghadapi musim pemilihan calon pemimpin di Indonesia.

Money politik atau biasa di sebut dengan “politik uang”, “politik transaksional” kini menjadi momok yang dihadapi bangsa ini. cita cita seorang yang luhur, ide dan gagasan yang brilliant dianggapnya, jika tak ingin kandas begitu saja maka harus dilengkapi dengan sejumlah mahar yang harus dibayar sebagai gerbang utama untuk mengaktualisasikannya.

Tak jarang ini membuat para tokoh calon yang berkualitas, memiliki dedikasi, komitmen pun enggan bahkan mengurungkan niat kerasnya untuk mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin.

Sehingga wajar jika kita kehilangan sosok tokoh dan figur seorang pemimpin. Dan Inilah yang terjadi di Indonesia saat ini, biaya politik yang mahal hanya membuat orang yang beruang dan memiliki modal besar dapat bertarung walaupun dengan kualitas yang minim dan terbatas.

Belum lagi citra ‘bagi-bagi uang’ ke masyarakat dengan syarat ‘harus memilihnya’ sering terjadi di beberapa kota di Indonesia. Seperti hal nya yang terjadi di Kabupaten Brebes, di tahun 2014 lalu, saya mengutip dari brebesnews.com bahwa ia menemukan kesaksian orang yang mendapat uang dari salah satu caleg yang oleh caleg di sebutnya sebagai “uang wara wiri” dengan besaran sekitar 150.000 rupiah.

Tidak hanya itu, hal yang sama juga didapatkan pekerja RSUD brebes bagian cleaning service, menurutnya dirinya sudah didata oleh rekannya untuk mencoblos salah satu kandidat dewan pusat, dengan diiming-imingi uang sebesar 10.000 rupiah.

Mungkin itu adalah sebagian dari bukti bahwa budaya money politik masih terus menggejala di setiap lorong-lorong kehidupan bangsa ini.

Tentu saya pribadi tidaklah menginginkan hal ini terjadi yang kesekian kalinya. Bahasa-bahasa seperti serangan fajar dan sebagainya adalah salah satu hal yang menciderai pesta demokrasi yang seharunya diwarnai dengan sportifitas, penuh dengan idealisme, dan juga kejujuran.

Sebab jika langkah awal saja sudah menggunakan cara-cara yang kotor maka kedepannya akan tambah mengotori bangsa ini dengan membentuk pemimpin bermental korup, dan culas.

Untuk itu saya menghimbau khususnya kepada masyarakat Kabupaten Brebes, pertama untuk menjadikan pemilukada Kab. Brebes sebagai pesta demokrasi yang penuh dengan kejujuran, politik yang masih mempertimbangkan etika dan moral. Sehingga hal hal yang demikian seperti yang terjadi di Brebes tahun 2014 lalu tidak akan terjadi lagi.

Kedua, jadikan pemilukada ini sebagai pendidikan politik agar banyak masyarakat yang melek dan peduli terhadap politik, sebab yang saat ini terjadi kecenderungan orang apolitis (acuh terhadap politik) karena mungkin saja yang termindset selama ini, bahwa politik tidak lebih dari sekedar perebutan kekuasaan yang tujuannya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kepentingan umum.

Ketiga, masyarakat yang menjadi salah satu objek money politik sudah seharunya berperan untuk menolak setiap bentuk money politik ataupun kecurangan-kecurangan yang terjadi lainnya.

Keempat, jadilah pemilih yang cerdas, yaitu pemilih yang berfikir dan mempertimbangkan nasib kota, desa, kabupaten bahwakan bangsanya untuk kepemimpinan 5 tahun kedepan.

Maka dengan itu kita akan berfikir bahwa nominal mata uang bukanlah cara untuk seseorang dapat mempertaruhkan dan menggadaikan nasib bangsanya, dalam hal ini Kabupaten Brebes.

Kalau semua itu dijalankan oleh setiap elemen masyarakat saya yakin, setidaknya masyarakat sudah memberikan banyak nilai pendidikan politik terutama untuk para calon pemimpin bahwa uang bukanlah cara untuk memperjual belikan nasib bangsanya. Dan dengan menolak money politik berarti masyarakat sudah membuktikan cara nya menghargai para pemimpinnya.

Ardiansyah Fadli, adalah jurnalis Radarnasional.com.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *